Nyepi, Hening Menuju Dharma

Nyepi, Hening Menuju Dharma

Memasuki Tahun Baru Saka 1940 umat Hindu Indonesia biasa melakukan tradisi nyepi, maka tidak heran kita biasa menyebutnya dengan Hari Raya Nyepi. Berbeda dengan Indonesia, India yang merupakan negara dengan populasi penduduk penganut Hindu terbanyak  tidak melakukan Nyepi saat memasuki tahun baru Saka karena Nyepi sendiri merupakan sebuah tradisi yang berkembang dan dilakukan umat Hindu di Indonesia, sebagian besar yang kita tahu hal ini terjadi di Bali. Proses nyepi tersebut sebenarnya tidak ada dalam ajaran agama Hindu di India sehingga ada yang beranggapan ini merupakan proses yang menyalahi ajaran yang tidak seharusnya (tidak benar). Pandangan tersebut jelas keliru karena dimanapun Hindu berkembang, dimungkinkan akan berkembang sesuai dengan tempat, waktu dan keadaan sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran utamanya.

Nyepi dalam konteks maknanya adalah menciptakan susana sepi, hening, tidak ada keramaian dan tidak ada aktivitas. Pada hari nyepi semua kegiatan ditiadakan termasuk pelayanan umum tapi tidak terkecuali untuk rumah sakit. Sebelum hari raya nyepi terdapat beberapa rangkaian yang dilakukan oleh umat Hindu seperti upacara dan beberapa proses yang sarat terkandung memiliki makna sendiri didalamnya.

Pada hari kedua atau ketiga sebelum nyepi, umat Hindu melakukan penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari itu segala sarana persembahyangan yang ada di Pura diarak kepantai atau danau (karena laut atau danau adalah sumber air suci, dan bisa mensucikan segala yang kotor didalam diri manusia dan alam.

Kemudian sehari sebelum hari raya nyepi, umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadna, pada hari tersebut dilakukan beberapa rangkaian proses seperti pecaruan, pengerupukan dan pawai ogoh-ogoh. Acara pecauran Buta Yadna dilaksanakan sesuai tingkatannya; yaitu pada tingkat provinsi, kabupaten dan kecamatan biasa dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11.00 – 12.00. Sedangkan di tingkat desa dilaksanakan pada sore hari.  Adapun pada proses pengerupukan biasanya dilaksanakan senja hari, umat Hindu memukul kentongan agar suasana riuh, sambil memercikan air suci disekeliling rumah. Di Bali biasanya di iringi dengan pawai ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan. Dalam rangkaian acara yang dilakukan umat Hindu pawai Ogoh-0goh merupakan puncak acara yang bisa dibilang sangat meriah, ogoh-ogoh menjadi media representasi diarak beramai-ramai keliling desa. Selain penduduk lokal  acara tersebut banyak disaksikan oleh wisata asing dan menjadi daya tarik wisata sendiri.

Dalam maknanya, menurut para cendikiawan dan praktisi Hindu Dharma, proses ini melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta yang maha dahsyat. Kekuatan tersebut meliputi alam bahkan kekuatan pada diri manusia sendiri. Dalam pandangan filsafat kekuatan ini dapat mengantarkan makhluk hidup, khususnya manusia dan seluruh dunia menuju kebahagian atau kehancuran. Terlepas dari semua itu hanyalah tergantung pada niat luhur manusia, sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia dalam menjaga dirinya dan seisi dunia yang di tempatinya.

Keesokan harinya, tepat hari akhir tahun, umat Hindu melaksanakan Nyepi. Susana hening seketika pada hari itu. Pada proses Nyepi ada beberapa aturan yang tidak boleh dilakukan, yaitu Amati Genti (Tidak boleh menyalakan api), Amati Karya (tidak boleh bekerja), Amati Lelungaan (tidak boleh bepergian) dan yang terakhir Amati Lelanguan (tidak boleh hiburan ; seperti menyalakan musik atau televisi).

Selain aturan tersebut, umat Hindu juga melaksanakan puasa. Nilai-nilai seperti pengendalian diri dan intropeksi diri juga merupakan hal yang penting dilakukan sebelum menyambut tahun baru.  Bagi orang yang mampu biasanya akan melakukan semedi atau yoga, hal ini dilakukan sebagai salah satu cara untuk menghubungkan jiwa dengan Tuhan yang pada tujuan akhirnya adalah untuk menyucikan lahir dan batin.

Dalam begitu banyaknya rangkaian demi rangkaian proses umat Hindu mengakhiri akhir tahun dan menyambut tahun baru tidak lepas dari cerita dan makna yang masing-masing terkandung didalamnya. Pada intinya proses tersebut memiliki makna yang sarat akan nilai dan pesan yang bisa kita pelajari. Proses Nyepi tidak lain merupakan proses pembersihan jiwa, dalam hening apa yang menjadi perbuatan dimasa lalu menjadi renungan agar ditahun berikutnya bisa menjadi lebih baik, dalam hening kita menuju dharma.

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940

No Videos Available

Related Posts: